Bayareacan

Tips Dan Belajar Tentang Kesehatan

×

Bangunan Ala Eropa di Dataran Tiongkok

Bangunan Ala Eropa di Dataran Tiongkok – Berada di “pulau” ini, Anda seolah berada di Eropa, padahal ia berada di tengah-tengah wilayah Tiongkok. Saat pertama kali menjejakkan kaki di Shamian Dao (Pulau Shamian), keadaan lingkungannya terlihat bukan seperti di dataran Tiongkok. Padahal, kota tua berumur lebih dari 200 tahun ini masih bagian dari kota Guang Zhou, provinsi Guang Dong, Tiongkok. Bangunan-bangunan bergaya klasik bertebaran di sana-sini, seperti berada di dataran Eropa. Lingkungannya tertata rapi dengan pohon-pohon besar yang menyejukkan atmosfer. Di Shamian banyak sekali ditemukan pohon Cinnamomum camphora. Pohon ini adalah pohon asli dari dataran Tiongkok. Pohon yang rata-rata berumur 130 tahun lebih ini dipakai untuk penghijauan di sepanjang sisi jalan. Karena besarnya, terciptalah kanopi pohon di sepanjang jalan. Daerah Khusus Shamian punya arti dataran atau permukaan yang berpasir. Jika dilihat di peta, dataran Shamian dikelilingi oleh sungai Pearl (Zhujiang), sehingga tampak terlepas dari wilayah kota Guang Zhou. Karena dataran ini seperti berdiri sendiri maka Shamian disebut pulau (dao). Pada pertengahan abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19, pedagang Eropa yang ingin berbisnis hanya diperbolehkan tinggal di pulau Shamian ini. Mereka kemudian membangun kompleks perumahan, lengkap dengan fasilitasnya. Ada fasilitas ibadah, taman, perkantoran, pertokoan, pergudangan, bahkan pabrik. Di sisi jalan lingkungan ditanami pohon-pohon pelindung. Itulah sebabnya bangunan di Shamian bergaya Eropa, dan jarang yang bergaya Tiongkok.

MASIH TERAWAT

Kalau dibandingkan dengan kawasan Kali Besar, Jakarta Kota, bangunan di Shamian masih tampak segar dan terawat. Bangunanbangunan tua yang ada di Shamian saat ini dimanfaatkan sebagai perkantoran, penginapan, rumah makan, kafe, salon, sekolah, galeri, bahkan sebagai tempat tinggal penduduk lokal ataupun asing. Beberapa bangunan masih tampak bertahan pada wajah aslinya. Sementara beberapa lainnya sudah mengalami renovasi hingga berganti warna fasad. Sementara rata-rata bangunan di Kali Besar masih terlihat malu-malu untuk tampil lebih “muda”.

Sebenarnya sah-sah saja mengubah warna fasad pada sebuah bangunan tua, jika itu akan meningkatkan kualitas bangunan dan lingkungan. Hal seperti ini juga dilakukan oleh pemerintah Singapura untuk kawasan kota tuanya di sepanjang Clarke Quay. Banyak bangunan tua yang masih tampak menarik. Di jalan utamanya terdapat gereja Katolik Roma bernama Our Lady of Lourdes (dari Perancis). Bangunan bergaya neo-gothic ini dibangun pada tahun 1892. Atau gereja British Christ Church bergaya neo-classic yang dibangun tahun 1865. Bangunan lainnya misalnya gedung perkantoran bergaya neo-classic yang dipergunakan sebagai bank. Selain bangunan, ada juga permukiman yang dibangun pada akhir masa dinasti Qing, dan beberapa mansion serta hunian lain yang mirip townhouse di Eropa.

TAMAN YANG ATRAKTIF

Kawasan Shamian ini ditata dalam pola grid. Ada satu jalan utama yang membelah kawasan menjadi dua bagian, yaitu utara dan selatan. Di tengah-tengah jalan utama terdapat taman yang memanjang. Taman ini diberi nama Friendship Garden. Tempat ini sungguh nyaman untuk duduk santai sambil menikmati deretan bangunan historis. Di tengah- tengah taman yang memanjang ini terdapat fasilitas olahraga dan bermain anak. Hampir setiap hari tempat ini ramai dikunjungi anak-anak maupun orang dewasa. Anak-anak boleh bebas bermain tanpa khawatir kendaraan yang berlalu-lalang, karena mobil dan sepeda motor hanya diperbolehkan melintas di sisi luar kawasan. Sedangkan di bagian tengah kawasan, hanya dua dari lima jalur yang ada yang boleh dilintasi kendaraan bermotor. Selain itu, ada juga ruang terbuka dan taman di sepanjang sisi sungai. Di bagian ini juga tak kalah menariknya. Banyak orang bersantai sambil menikmati pemandangan sungai Pearl. Banyak juga orangtua berolah raga Tai Chi. Tak ketinggalan restoran terbuka di pinggir sungai. Cerita tentang Shamian rasanya tak pernah habis. Tiap bagiannya punya cerita menarik. Permukiman yang diciptakan orang asing tersebut telah menciptakan atmosfer yang berbeda dari permukiman Tiongkok pada umumnya. Meski klasik, bangunan ini dilengkapi genset sebagai sumber listrik cadangannya. Genset dengan kapasitas 20 kva digunakan di bangunan ini mengingat bangunan ini juga berfungsi sebagai tempat wisata, oleh karenanya perlu dipastikan aliran listrik terpenuhi selama 24 jam. Yang menarik genset ini di supply dari distributor jual genset jakarta yang berada di Indonesia. Menarik bukan faktanya ?