Bayareacan

Tips Dan Belajar Tentang Kesehatan

×

Month: August 2019

Cara Mengatasi Hama Agar Panen Optimal

Cara Mengatasi Hama Agar Panen Optimal – Menjelang musim tanam, petani sebaiknya mengantisipasi serangan berbagai ma – cam organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Petani tidak boleh lengah agar tonase produksi padinya tetap berlimpah. Menurut pantauan Yoyo Suparyo, tokoh petani padi di Pamanukan, Subang, Jawa Barat, beberapa wilayah di daerahnya telah terindikasi terkena serangan wereng. Selain itu, ancaman penggerek batang juga tetap ada. Sementara itu Arya Yudas, Marketing Manager FMC Agricultural Manufacturing mengungkapkan, musim hujan diramalkan akan tiba November. Dengan periode kemarau yang cukup panjang, petani akan langsung menanam padi begitu masuk musim penghujan.

Hal ini dinilai Arya memung – kinkan serangan wereng datang meskipun tidak begitu besar. Dari Januari hingga April, ujar Arya, curah hujan cukup tinggi. Setelah April, tanaman memasuki musim kemarau. Meskipun tidak semarak tahuntahun sebelumnya, petani harus tetap mewaspadai serangan wereng. Kandungan air di udara yang cukup tinggi memungkinkan serangan hama meningkat. Pada musim tanam kedua (MH II), Arya juga mengingatkan untuk mewaspadai bakteri. “Sekitar Januari – Februari, kita harus waspadai kresek atau hawar daun bakteri (Bacterial Leaf Blight) (BLB) yang akan jadi problem. Di samping itu masih ada ancaman penggerek batang,” tambahnya saat ditemui AGRINA di Jakarta, Jumat (24/8). Secara umum, lanjut Arya, terdapat sedikit perbedaan musim di daerah Jawa dan Sumatera, serta daerah-daerah lain di bawah katulistiwa. Meskipun demikian, petani sebaiknya menyiapkan varietas tanaman padi yang tahan terhadap wereng dan bakteri berikut penunjangnya agar keberhasilan panen terjamin pada musim hujan.

Antisipasi Sejak Dini

Senada dengan Arya, Agus Suryanto, Senior Crop Manager PT Bina Guna Kimia (FMC) menimpali, selain serangan hama lembing batu, gempuran wereng sudah terlihat saat musim kemarau ini. Beberapa titik di Indramayu, Jawa Barat dan daerah sentra lainnya mulai terserang. Meskipun tidak sampai hopper burn (seperti terbakar) ataupun mengalami klowor, Agus berharap petani tetap melakukan upaya pengendalian. “Serangan wereng hampir meledak lagi di Jawa Timur. Mulai dari Jember kemudian Ngawi hampir rata terkena. Bahkan kemarin di Aceh, Sumatera lumayan besar serangannya,” ulas Agus pertengahan Juli. Pada kesempatan lain, Bayu Nugroho, yang saat diwawancarai AGRINA berposisi sebagai Rice Crop Leader & Category Manager PT Corteva Agriscience, Waspadai Serangan OPT Agar Hasil Tetap Oke FOKUS Agrina 291 – September 2018 22 Dalam mengantisipasi serangan hama pada tanaman padi, perhatikan waktu dan dosis pemakaian insektisida secara tepat. APLIKASIKAN pestisida secara tepat dan bijak mengutarakan, ada yang bilang ledakan wereng merupakan siklus empat sampai lima tahunan.

Na – mun, daerah Sragen, Sukoharjo, Ponorogo, Ngawi, Indramayu, dan Pantura Jawa tahun lalu parah dan tahun ini pun cukup parah terkena serangan. Wereng, imbuh Bayu, merupakan OPT yang kerap membuat panik petani. Bahkan ada petani yang menggunakan oli sebagai upaya mengendalikan wereng. Hal demikian amatlah keliru. Waktu itu ia mewanti-wanti bahaya serangan wereng pada Agustus – September dan ternyata perkiraan tersebut ada benarnya. Terbukti ada serangan di seputar Subang. Untuk melawan potensi terjangan wereng, Agus menyarankan petani untuk antisipasi sejak dini. Ibarat perlindungan dari bawah, Agus merekomendasikan Marshal 5G. “Kita taburkan Marshal berbarengan dengan pemupukan,” jelasnya. Untuk perlindungan dari sisi atas, Agus menyebut bisa penyemprotan dengan insektisida pengendali wereng seperti Stargate. Kendati tidak ada wereng, treatment tetap diaplikasikan sejak persemaian. Dengan insektisida yang memiliki efek tahan lama, efek residual akan cukup banyak sehingga tetap aman ketika wereng datang. Di sisi lain, Arya menyebut, yang paling utama untuk menanggulangi serangan hama penyakit adalah pengamatan langsung oleh petani. Penggunaan pestisida adalah ibarat jalan terakhir ketika tidak ada cara lain. “Kalau bisa dikendalikan secara biologis, kemudian mekanis, baru yang terakhir secara kimia,” tuturnya.

Telaten Agar Tidak Resisten

Dari sisi penggunaan pestisida, Arya menyarankan sebaiknya petani selalu memanfaatkan produk yang terdaftar. Yang perlu diingat, jangan sembarang atau seenaknya memakai pestisida. “Salah satu trigger (pemicu) terjadinya outbreak (ledakan) wereng tahun lalu, ya itu, petani memakai produk yang tidak terdaftar untuk padi, apalagi yang bukan untuk wereng. Jadi problem itu,” ulasnya. Bayu menyambung, baik pihak swasta maupun pemerintah harus bekerja sama dalam mengedukasi petani. Termasuk label hijau pada pestisida yang berarti tidak berbahaya pada penggunaan normal. Insektisida untuk wereng misalnya, sangat banyak tersedia di pasaran. Agar tidak terjadi resistensi dan resurgensi, baiknya petani melakukan rotasi cara kerja pestisida supaya tetap efektif mengendalikan hama. Wereng sensitif terhadap suatu bahan aktif. Petani dianjurkan tidak menggunakan produk lama yang sudah tergolong resisten.

“Kalau sudah resisten, 10 kali semprot juga tidak mempan. Jangan salah pakai seperti yang mengandung golongan piretroid. Piretroid bikin ledakan,” saran Bayu. Dalam menggunakan pestisida, sudah seyog – yanya petani telaten membaca dosis pemakaian dan bijak ketika pengaplikasiannya. Kapan saat yang tepat dan berapa dosis yang dianjurkan saat menyemprotkan pestisida. Tidak hanya wereng, hama lainnya yang sudah resisten terhadap satu bahan aktif, juga akan kebal dan tidak mempan. Alih-alih ingin mengendalikan hama dengan cepat, penambahan dosis yang berlebihan malah akan menimbulkan resurgensi. Penelitian untuk menemukan bahan aktif baru pengendali hama membutuhkan waktu hingga sepuluh tahun dan modal yang besar. Karena itu, agar tidak terjadi resistensi dan resurgensi, petani harus bijak dalam menerapkannya. Pada dasarnya, penggunaan pestisida bertujuan untuk mengurangi populasi hama. bukan sebaliknya, yang justru meningkatkan populasi. Pihak swasta dan pemerintah perlu mengingatkan petani tentang dampak penggunaan pestisida yang berlebihan atau melebihi dosis.

Bangunan Ala Eropa di Dataran Tiongkok

Bangunan Ala Eropa di Dataran Tiongkok – Berada di “pulau” ini, Anda seolah berada di Eropa, padahal ia berada di tengah-tengah wilayah Tiongkok. Saat pertama kali menjejakkan kaki di Shamian Dao (Pulau Shamian), keadaan lingkungannya terlihat bukan seperti di dataran Tiongkok. Padahal, kota tua berumur lebih dari 200 tahun ini masih bagian dari kota Guang Zhou, provinsi Guang Dong, Tiongkok. Bangunan-bangunan bergaya klasik bertebaran di sana-sini, seperti berada di dataran Eropa. Lingkungannya tertata rapi dengan pohon-pohon besar yang menyejukkan atmosfer. Di Shamian banyak sekali ditemukan pohon Cinnamomum camphora. Pohon ini adalah pohon asli dari dataran Tiongkok. Pohon yang rata-rata berumur 130 tahun lebih ini dipakai untuk penghijauan di sepanjang sisi jalan. Karena besarnya, terciptalah kanopi pohon di sepanjang jalan. Daerah Khusus Shamian punya arti dataran atau permukaan yang berpasir. Jika dilihat di peta, dataran Shamian dikelilingi oleh sungai Pearl (Zhujiang), sehingga tampak terlepas dari wilayah kota Guang Zhou. Karena dataran ini seperti berdiri sendiri maka Shamian disebut pulau (dao). Pada pertengahan abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19, pedagang Eropa yang ingin berbisnis hanya diperbolehkan tinggal di pulau Shamian ini. Mereka kemudian membangun kompleks perumahan, lengkap dengan fasilitasnya. Ada fasilitas ibadah, taman, perkantoran, pertokoan, pergudangan, bahkan pabrik. Di sisi jalan lingkungan ditanami pohon-pohon pelindung. Itulah sebabnya bangunan di Shamian bergaya Eropa, dan jarang yang bergaya Tiongkok.

MASIH TERAWAT

Kalau dibandingkan dengan kawasan Kali Besar, Jakarta Kota, bangunan di Shamian masih tampak segar dan terawat. Bangunanbangunan tua yang ada di Shamian saat ini dimanfaatkan sebagai perkantoran, penginapan, rumah makan, kafe, salon, sekolah, galeri, bahkan sebagai tempat tinggal penduduk lokal ataupun asing. Beberapa bangunan masih tampak bertahan pada wajah aslinya. Sementara beberapa lainnya sudah mengalami renovasi hingga berganti warna fasad. Sementara rata-rata bangunan di Kali Besar masih terlihat malu-malu untuk tampil lebih “muda”.

Sebenarnya sah-sah saja mengubah warna fasad pada sebuah bangunan tua, jika itu akan meningkatkan kualitas bangunan dan lingkungan. Hal seperti ini juga dilakukan oleh pemerintah Singapura untuk kawasan kota tuanya di sepanjang Clarke Quay. Banyak bangunan tua yang masih tampak menarik. Di jalan utamanya terdapat gereja Katolik Roma bernama Our Lady of Lourdes (dari Perancis). Bangunan bergaya neo-gothic ini dibangun pada tahun 1892. Atau gereja British Christ Church bergaya neo-classic yang dibangun tahun 1865. Bangunan lainnya misalnya gedung perkantoran bergaya neo-classic yang dipergunakan sebagai bank. Selain bangunan, ada juga permukiman yang dibangun pada akhir masa dinasti Qing, dan beberapa mansion serta hunian lain yang mirip townhouse di Eropa.

TAMAN YANG ATRAKTIF

Kawasan Shamian ini ditata dalam pola grid. Ada satu jalan utama yang membelah kawasan menjadi dua bagian, yaitu utara dan selatan. Di tengah-tengah jalan utama terdapat taman yang memanjang. Taman ini diberi nama Friendship Garden. Tempat ini sungguh nyaman untuk duduk santai sambil menikmati deretan bangunan historis. Di tengah- tengah taman yang memanjang ini terdapat fasilitas olahraga dan bermain anak. Hampir setiap hari tempat ini ramai dikunjungi anak-anak maupun orang dewasa. Anak-anak boleh bebas bermain tanpa khawatir kendaraan yang berlalu-lalang, karena mobil dan sepeda motor hanya diperbolehkan melintas di sisi luar kawasan. Sedangkan di bagian tengah kawasan, hanya dua dari lima jalur yang ada yang boleh dilintasi kendaraan bermotor. Selain itu, ada juga ruang terbuka dan taman di sepanjang sisi sungai. Di bagian ini juga tak kalah menariknya. Banyak orang bersantai sambil menikmati pemandangan sungai Pearl. Banyak juga orangtua berolah raga Tai Chi. Tak ketinggalan restoran terbuka di pinggir sungai. Cerita tentang Shamian rasanya tak pernah habis. Tiap bagiannya punya cerita menarik. Permukiman yang diciptakan orang asing tersebut telah menciptakan atmosfer yang berbeda dari permukiman Tiongkok pada umumnya. Meski klasik, bangunan ini dilengkapi genset sebagai sumber listrik cadangannya. Genset dengan kapasitas 20 kva digunakan di bangunan ini mengingat bangunan ini juga berfungsi sebagai tempat wisata, oleh karenanya perlu dipastikan aliran listrik terpenuhi selama 24 jam. Yang menarik genset ini di supply dari distributor jual genset jakarta yang berada di Indonesia. Menarik bukan faktanya ?